KEBUDAYAAN DAERAH JAWA TIMUR
KEBUDAYAAN NUSANTARA ( JAWA TIMUR )
●Rumah adat Joglo
Indonesia adalah negara dengan kebudayaan yang paling beragam di dunia. Keberagaman ini tak terlepas dari berbagai suku yang ada dengan rumah tinggal tradisionalnya yang biasa disebut dengan rumah adat. Salah satu rumah adat yang cukup populer adalah rumah adat Joglo.
Rumah adat Joglo merupakan rumah adat yang paling terkenal Jawa Timur. Secara bahasa, kata joglo berasal dari dua kata yaitu “tajug” dan “loro” yang mengandung arti penggabungan dari dua tajug. Tajug sendiri merupakan atap yang berbentuk piramida atau limas bujur sangkar dengan dasar persegi empat dan satu puncak.
●Pakaian Mantenan
Pakaian mantenan, merupakan jenis pakaian adat yang berasal dari Jawa Timur dan biasa digunakan untuk acara pernikahan saja.
Jenis pakaian adat mantenan ini sangat mudah untuk kita temui khususnya ketika ada acara pernikahan di Jawa Timur. Sedangakan untuk pelengkapnya berupa odheng, arloji rantai, kain selempang, serta jenis-jenis aksesoris lainnya.
●Seni pertunjukan Reog Ponorogo
Seni pertunjukan reog Ponorogo, merupakan salah satu tradisi masyarakat Ponorogo yang masih hidup dan bertujuan mempererat tali silaturahmi masyarakat Ponorogo. Kesenian yang mulanya bernama “Barongan” ini, dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam yang berasal dari Bali.
●RAWON
Rawon memiliki cita rasa khas dengan aroma dan rasa yang menggugah selera. Daging sapi yang merupakan komposisi utama dalam Rawon dimasak hingga empuk. Rasa hidangan Rawon merupakan perpaduan dari rasa manis, gurih dan legit. Rawon merupakan kuliner khas Jawa Timur, berupa sup daging dengan kuah berwarna hitam.
Rawon merupakan makanan yang dibuat dari aneka bumbu, rempah, dan potongan daging sapi. Salah satu rempah yang digunakan untuk membuat rawon adalah kluwek atau keluak.
●Upacara Adat Kasada Bromo
Upacara adat Kasada Bromo yang juga disebut Yadnya Kasada merupakan ritual adat yang digelar oleh orang-orang Suku Tengger, Bromo, Jawa Timur.
Upacara adat Kasada Bromo diadakan setiap setahun sekali saat datangnya bulan purnama pada bulan Kasada atau kesepuluh menurut kalender Jawa. Namun, menurut kalender Tengger, upacara dilakukan pada bulan ke 12.
warga yang ikut upacara berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) untuk berdoa dan memberi sesaji di kaki Gunung Bromo.
Tujuan upacara ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, dan menolak bala atau bahaya.






Komentar
Posting Komentar